by

Motivasi Tukang Cukur Yang Menjadi Orang Sukses

Indonesia – Menjadi orang yang sukses terdapat banyak cara dan pelajaran motivasi, bisa karena faktor beruntung, tekun, berprinsip, atau pintar. Apa yang dilalui oleh Randy Sulaiman (nama samaran), seorang tukang cukur di Senayan, Jakarta adalah semua gabungan dari hal tadi. Orangnya rendah hati, mudah berteman, dan memang memiliki keahlian yaitu mencukur. Meskipun begitu, pelanggannya menyebut tempat kerjanya bukan kios tukang cukur, melainkan salon.

pelajaran motivasi Randy berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Berkat ketekunannya dan kehidupannya yang hemat tapi bekerja keras, sedikit demi sedikit dia bisa mengumpulkan uangnya, dan akhirnya menetap di Palmerah, di sebuah rumah yang dibangunnya sendiri seluas 150 m2. Di tempat inilah sebenarnya dia benar-benar membangun sebuah salon potong rambut. Dia bekerja sendiri, dibantu oleh seorang asisten yang setia. Randy keturunan Tionghoa, ayahnya beragama Konghuchu. Namun, kemudian kedua orangtuanya menjadi mualaf. Randy, istri, serta anaknya mengikuti menjadi mualaf juga, dan menjadi muslim yang baik.

Cara dia melayani kilennya sangat baik, sehingga umumnya mereka menjadi pelanggan setia. Contohnya saya. Saya sudah lebih dari 35 tahun setia memangkas rambut saya ke Randy . Saya sudah mencoba di berbagai tempat di Jakarta, Surabaya, Bandung, Palembang, Medan, Batam, bahkan di Australia dan Eropa. Tidak ada seorang pun yang bisa memangkas rambut saya seperti yang saya inginkan.

Di rumahnya yang sempit ada empat kamar untuk masing-masing anaknya. Anaknya yang pertama, Gery (nama samaran) kuliah di Bina Nusantara, dengan spesialisasi animasi. Sekarang bekerja di RCTI di bagian animasi dan sudah menikah dengan orang Depok, keturunan Betawi asli. Sisca, putri kedua, kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Geologi. Karena cerdas dan rajin, ia diangkat menjadi asisten dosen. Ia sering mengadakan penelitian di berbagai wilayah Indonesia, sampai akhirnya mendapatkan beasiswa dari pemerintah Inggris untuk mengambil S2 dengan penelitian khusus mengenai lingkungan hidup. Sepulang dari Inggris, ia menjadi dosen dan peneliti di ITB. Suaminya orang Awak (Padang), sekarang bekerja di perusahaan Jepang.

Ketiga Juwita. Tamat Fakultas Sastra Universitas Indonesia, sekarang mengajar Bahasa Jepang. Suaminya Islam dan keturunan Jawa-Sunda, sekarang bekerja di Bukalapak. Yang terakhir putri keempat, Wien, sekarang ini berusia 20 tahun, saat ini kuliah di Universitas Tirtayasa, Jurusan Teknik Sipil, Banten. Bersama pacarnya, putra Banten asli, Wien mendirikan kafe di Rangkas Bitung. Modalnya diperoleh ketika ia mendapat dana USD 2000 dari Korea Selatan karena dia sukses mengajukan proposal, kemudian mempertahankan proposal itu dalam sebuah seminar di Seoul, Korea Selatan. Universitasnya memang bekerja sama dengan Korea Selatan, khususnya untuk pemberian beasiswa.

pelajaran motivasi – Baru enam bulan kafenya berdiri, karena mendapat untung besar, mereka berencana menambah satu gerai baru. Tetapi, oleh ayahnya, Randy, rencana tersebut ditolak karena khawatir ia tidak bisa menyelesaikan kuliahnya akibat sibuk berbisnis. Wien, sebagaimana saudaranya yang lain amat patuh kepada ayahnya, membatalkan rencananya untuk menambah kafe baru. Namun, ia bertekad di akhir kuliahnya dia sudah akan memiliki 10 kafe di Banten.

pelajaran motivasi – Meskipun “hanya” tukang cukur, Randy mendidik anaknya dengan sangat keras, khususnya ketika di perguruan tinggi –mereka harus tetap kuliah dan harus selalu menjadi nomor satu di kampusnya. Terbukti memang, keempat-empatnya menjadi mahasiswa unggulan di kampus masing-masing, bahkan keempat-empatnya menjadi asisten dosen pada semester 4, menulis berbagai penelitian di berbagai forum ilmiah internasional, dan ditawari berbagai beasiswa.

Wien, karena hubungannya meluas, pernah dilamar oleh asisten dosennya yang berasal dari Jepang. Wien minta syarat, bahwa ia bersedia menjadi istrinya kalau asisten dosen itu pindah beragama Islam. Dia menolak, dan hubungan mereka putus. Pacarnya yang sekarang, putra Banten asli dan alumni Universitas Tirtayasa.

Ketika dulu saya berpindah-pindah rumah dan sekarang tinggal di Cilandak, saya masih selalu menyempatkan untuk datang ke salon Randy untuk potong rambut. Di salonnya sekarang ini, karena tiga dari empat anaknya sudah menikah, kamar yang selama ini dipakai anak-anaknya disewakan untuk kos-kosan. Bahkan ruang salon yang tadinya luas, dipersempit untuk digunakan sebagai kamar kos tambahan.

Sejak dua puluh tahun yang lalu saya menyaksikan betapa hubungan si tukang cukur ini dengan keluarga di rumahnya sangatlah baik. Barang tentu dia tidak bisa memberikan advice akademik, karen Randy hanya lulusan SLTA. Tapi, ia memberikan pelajaran motivasi, moral, dan agama secara teratur dan terus-menerus. Saya pernah menghadiri pernikahan putrinya yang kedua. Menurut saya pesta pernikahannya sangat mewah bagi seorang tukang cukur “biasa”.

Randy memang berkat ketekunan dan kerja kerasnya telah menjadi seorang entrepreneur yang sukses. Ia mengatakan bahwa sampai kapan pun dirinya akan menjadi tukang cukur –di salonnya yang semakin sempit itu. “Syukur alhamdulillah,” dia mengatakan, “Saya mempunyai anak-anak yang mau mendengarkan, santun, menghormati ayah ibunya dan mau kerja keras untuk mendapatkan nilai dan prestasi terbaik di bangku kuliah.”

Randy adalah contoh terbaik dalam mendidik anak-anaknya lewat pendidikan moral, serta kesadaran bahwa mereka dibesarkan oleh orangtua yang sederhana, seorang tukang cukur.

Tiga puluh tahun Randy berjuang membesarkan anak-anaknya. Hari ini ia memetik hasilnya,pelajaran motivasi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed