by

Kisah Inspirasi dan Perjuangan Hidup Bob Marley

Hidup Bob Marley – Siapa yang Tidak kenal dengan Robert Nesta alias Bob Marley? Tapi mungkin tidak banyak yang mengetahui kalau legenda musik reggae yang mashyur tersebut lahir dari rahim seorang wanita budak berkulit hitam. Segregasi kelas sosial yang sangat tajam pada masyarakat Jamaika menjadikan Bob Marley hidup dengan satu kata yaitu, ‘perjuangan’.

Ibunya yang merupakan budak itu bernama Cedella, sementara ayahnya seorang Norval Sinclair Marley adalah seorang berkulit putih. Tetapi, begitulah hidup. Saat pembatas pemisah rasial sudah menganak-pinak, hal-hal substansial yang ada dalam aspek manapun barang tentu akan mengalami keterlantaran yang sangat peri. Norval Marley disebut angkuh dengan dandanan kulit putihnya pergi untuk meninggalkan Cedella dalam kondisi sedang hamil. Kita boleh saja beranggap jika Norval bedebah ataupun lelaki brengsek tidak memiliki wibawa. Akan tetapi, Jamaika memang saat itu hidup dalam romantisme ekonomi dan politik yang serampangan. Batas pemisah antara yang kaya dan yang miskin, yang putih dan hitam, yang kolonial dan yang budak sangat  terasa.

Ibunya selanjutnya membawanya pindah ke Kingston, tepatnya berada di Trench Town. Di sinilah, Bob menemukan ‘panggilan’ hidupnya yang berlatarkan situasi jalanan yang dipenuhi dengan minuman keras, konflik antar komunitas, hingga kekerasan fisik lainnya. Menariknya, musik menjadikan anak-anak komunitas seperti dirinya terinspirasi untuk menentang ketidak adilan penguasa. Irama musil R&B, Soul, dan Ska menjadi yang paling diminati sosok kelahiran Nine Miles, Jamaika, 06 Februari 1945. Tidak luput bahwa ragam musik tersebut yang menggiringnya meng-universalkan genre fenomenal bernama ‘reggae’. Syahdan, Bob Marley pun terus mencoba menyanyikan lagu-lagu kesukaannya di berbagai studio kecil yang berada di Kingston. Dari situlah, karir Hidup Bob Marley di dunia musik mulai berlahan naik. Ia pun berkenalan dengan para musisi dan penyanyi Jamaika yang lain. Hingga pada awal 1962, Bob Marley, Bunny Livingstone, Peter Tosh, Junior Braithwaite, Beverly Kelso dan Cherry Smith membentuk sebuah grup yang di beri nama The Teenager yang kemudian berubah menjadi The Wailing Rudeboys, lalu The Wailing Wailer, hingga akhirnya di beri nama The Wailers.

Kisah Inspirasi dan Perjuangan Hidup Bob Marley

Tentu, ada begitu banyak cerita yang berkenaan dengan Hidup Bob Marley. Pengalaman-pengalaman dan lika-liku perjuangan hidupnya memberikan kenangan yang bermakna bagi pencinta musik reggae khususnya, dan masyarakat dunia pada umumnya. Ini mengenai bertahan dan mengembangkan hidup. Juga mengenai bangun dari himpitan situasi yang tidak kondusif, dan berjuang untuk tegar berdiri. Kisah Bob Marley memang tidak pernah habis. Ada jutaan orang yang tetap setia mendengar karya-karyanya. Lagu-lagu Bob Marley yang selalu berasal dari konteks sosial tertentu merupakan hiburan serentak peletup semangat untuk senantiasa berjuang dari keterpurukan. Selalu saja terdapat pesan yang hendak disampaikan “The Prophet”, begitulah ia disapa dalam kalangan rastafarian.

Sekali lagi, perjuangan hidup merupakan kunci utama untuk mengeksplanasi keseluruhan perjalanan hidup sang legenda. Seperti yang sudah dikatakan, ia sudah merasakan itu sejak berada dalam kandungan ibu. Diskriminasi rasial yang berujung pada distorsi-distorsi sosial lainnya juga membuatnya berjuang untuk bisa “menemukan” diri. Namun, sekali lagi musik menginspirasinya. Hidup Bob Marley menikmati musik reggae sebagai agama paling nyata baginya, terlepas dari anutan sebagai seorang rastafarian. Tatkala filosof Ludwig Feurbach mengatakan jika agama adalah produk manusia yang teralienasi, sebuah produk yang mana manusia kemudian kehilangan kontrol atasnya, dapat dikatakan bahwa musik bagi Bob Marley bukanlah pelarian dari rasa tertekan dan tertindas. Musik bagi pria yang putus sekolah ini merupakan perjuangan itu sendiri, hal nyata yang bisa bermakna bagi banyak orang. Lagu-lagu awal seperti Judge Not, Terror, dan One Cup of Coffe (1962) merupakan refleksi atas bengisnya kolonialisme Inggris di Jamaika. Ataupun Simmer Down yang bercerita mengenai rude boy, panggilan bagi anak-anak gang yang hidup dalam tawuran dan kekerasan. Adapun No Woman No Cry (1975) yang berisikan hiburan dan penguatan kepada kaum wanita akibat kehilangan harga diri, keluarga, dan orang-orang yang dicintai sekitaran hidup mereka. Tidak jarang, lagu-lagu Bob Marley pun mengusung ajakan revolusioner, semisal seruan perlawanan dalam Get Up, Stand Up dan berbagai lagu lain dalam album Burnin’ (1973).

Selain itu, Bob Marley melalui karya-karyanya turut menyerukan semangat perdamaian bagi rakyat Jamaika. Dengan musik reggaenya, memejamkan mata sembari berjingkrak-jingkrak dan mengacungkan kepalan tangan, Bob menghipnotis semua penontonnya larut dalam setiap makna lagu-lagunya. Rasa cinta terhadap tanah airnya itu menghentaknya terlibat dalam konser The One Love Peace yang mana menghadirkan dua pemimpin politik yang bertikai kala itu, Michael Manley dan Edward Seaga. Aksi dramatis nan menyentuh pun disajikan. Bob Marley menciptakan lagu One Love ditengah kedua kubu yang berseteru, lalu mengangkat tangan Manley dan Seaga, dan menyatukan dalam satu kepalan tangan pertanda berakhirnya persengketaan kedua belah pihak (bdk. Jube Tantagode, ibid. hlm. 77). Sungguh luar biasa momen tersebut. Lagu One Love tersebut pun menjadi semacam himne kemanusiaan internasional yang melampai sekat suku, agama, dan ras.

Hal lain yang ingin diberitahukan “Sang Nabi” ialah soal cinta terhadap integritas diri. Pada prinsipnya, semua manusia itu sama, setara, dan sederajat. Oleh karena itu, manusia bukanlah budak yang bisa diperalat begitu saja. Lagu Redemption Song (1980) menjadi salah satu lagu dengan daya kobar yang paling khas dengan jargonnya, “emancipate yourselves from mental slavery, none but ourselves can free our mind”. Artinya, Bob Marley saat itu sangat mendukung gerakan kaum kulit hitam, tidak hanya di Jamaika tetapi juga di Afrika, untuk bisa lepas dari setrapan rasialisme dan imperialisme. Bob Marley sadar jika dirinya merupakan anak seorang budak yang seringkali diperlakukan secara tidak adil. Makanya, dia ingin mengangkat harkat dan martabat kaumnya. Inspirasi yang di ajarkan Rastafari, merupakan sebuah kepercayaan untuk melihat Kaisar Ethiopia Haile Selassie sebagai titisan Tuhan dengan teologinya bahwa Tuhan mahamengetahui dan mahamencintai, sangat memengaruhi diri Bob Marley. Sehingga tidak diargukan jika lagu-lagu Bob Marley seringkali diujarkan sebagai sabda-sabda Rastafarian.

Demikian beberapa poin tentang Hidup Bob Marley dan perjuangan kemanusiaannya. Bob Marley boleh jadi merupakan seorang nabi. Namun, hidupnya tak abadi. Ia wafat pada 11 Mei 1981. Kepergiannya menimbulkan duka mendalam bagi kaum Rastafarian dan para pencinta reggae umumnya. Namun, karya-karyanya selalu terngiang kekal dalam keseharian hidup penggemarnya. Kisah-kisah perjuangannya terhadap kaum pinggiran semestinya menjadi motivasi bagi kita sekalian. Keberanian menyuarakan kaum tak bersuara lewat musik adalah ekspresi positif yang pantas diapresiasi. Memang harus diakui juga bahwa hidupnya tak mulus-mulus amat. Kisah perkelahian, kekerasan, kecanduan terhadap ganja adalah semacam warna lain dari sisi kelam hidupnya. Tetapi, filosofi perjuangan pada tataran yang lebih ekstensif adalah harga yang tak dapat dibayar. Sehingga sedih apabila orang yang seringkali mendaku pencinta reggae hanya tahu bagaimana berjingkrak sana-sini dengan gaya rambut dreadlock, ataupun berkoar sana-sini tanpa punya kepedulian sosial terhadap realitas hidup.

Sekali lagi, kisah mengenai Hidup Bob Marley tidak akan selesai, dan sejatinya itu harus menjadi kisah perjuangan kita selanjutnya. Tentu itu dengan cara kita masing-masing. Dan, bisa dijadikan perjuangan kemanusiaan kita adalah kebanggaan lain bagi sang legenda yang telah pergi, selain bangga mengenakan cincin Lion of Judah kepunyaan Kaisar Haile Selassie. Selamat ulang tahun Om Bob, 06 Februari 2016.***

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed